Hukum  

Ketua PKS Sulsel : Panglima Ta’ Punya 1.000 Pengalaman Memimpin

Petinggi PKS Sulsel bersilaturahmi ke kediaman Panglima Ta’

MAKASSAR, KACE — Ketua DPW PKS Sulawesi Selatan Amri Arsyid bersama Dewan Pakar melakukan silaturahmi kebangsaan ke kediaman eka Pangdam XIV Hasanuddin, Mayor Jenderal (P) TNI Andi Muhammad Mappanyukki (Panglima Ta’) di Jalan Sungai Tangka No 21 Makassar, baru – baru ini.

Menurut Amri Arsyid, silaturahmi kebangsaan ini merupakan agenda rutin yang sudah dilakukan sebelumnya bersama Dewan Pakar DPW PKS Sulsel kepada organisasi masyarakat, organisasi agama, serta tokoh penting di Sulsel seperti tokoh lintas agama, tokoh budaya, tokoh ekonomi, tokoh militer dan tokoh politik.

“Ini merupakan silaturahmi politik kepada setiap elemen bangsa, terutama tokoh bangsa yang sudah menjaga dan merawat bangsa dan daerah sehingga tetap berdiri tegak,” ujar Amri.

PKS, kata Amri, terbuka untuk siapa saja, apapun latar belakang dan agamanya karena tidak sedang membangun perpecahan. Apalagi mengkotak-kotakkan potensi tokoh dan anak bangsa yang sama-sama berkeinginan melakukan perubahan menuju perbaikan untuk bangsa ini.

“Kami dari PKS terus membangun kolaborasi, merawat komunikasi menjaga silaturahmi. Jadi siapapun kita, PKS terbuka untuk itu,” kata Amri Arsyid sembari mengutip Surat Al Hujurat ayat 13, “Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

“Beliau (Panglima Ta’) tentunya punya 1.000 pengalaman. Dalam kaitan itulah, kami meminta nasihat sekaligus masukan, sekaligus belajar bagaimana mengelola bangsa,” sambungnya.

Sementara itu, Panglima Ta’ mengungkapkan bahwa kunjungan PKS ini bukan baru pertama kali, sudah ada pertemuan sebelumnya,
ketika masih aktif sebagai Pangdam XIV Hasanuddin.

“Kami bertemu dengan Ketua Majelis Syuroh PKS Dr Salim di Istana Jongaya Jalan Kumala. Jadi bagi saya, PKS itu bukan lagi partai yang asing. PKS merupakan satu-satunya partai yang sampai hari ini konsisten berdiri sendiri dan berpihak pada masyarakat. Terakhir PKS walk out dari ruang sidang karena tidak menyetujui UU Ciptakerja,” ujarnya.

Ia berharap PKS menjadi partai yang terus konsisten dengan idealismenya dan mampu membangun kolaborasi dengan siapa saja. Sebab membangun bangsa dan melakukan sebuah perubahan tidak bisa sendiri, tetapi butuh banyak tangan, banyak kepala. Yang tak kalah pentingnya perlu SDM yang memiliki kemampuan untuk mengelolanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *