Berita  

Hadir Semangati Tim Sandeqnya, PHS : Kekayaan Leluhur yang Wajib Dilestarikan

BALIKPAPAN, KACE — Ketua Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) Provinsi Sulawesi Selatan, Profesor Husain Syam (PHS) sengaja hadir melihat langsug Tim Sandeqnya, Merpati Putih dan Insya Allah Merpati di Pantai Manggar, Balikpapan, Kaltim, Kamis 8 September 2022.

PHS mengaku menyempatkan dirinya datang untuk memberi semangat kepada tim Sandeqnya. Sebab menurutnya, menyeberangi Selat Makassar membutuhkan motivasi dan kekuatan yang besar.

“Saya datang, karena kita tahu beratnya mengarungi lautan. Saya juga senang sekali, tim kita yang baru pertama kali ikut bisa sampai di IKN,” ujar PHS yang juga Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) ini.

PHS mengatakan, Sandeq merupajan kekayaan leluhur masyarakat Mandar yang wajib dilestarikan. Oleh karena itu, ia berharap ke depannya, kegiatan seperti ini bisa menjadi rutinitas tahunan. Selain ajang pelestarian, Festival Sandeq juga menjadi hiburan.

“Momen seperti ini sebenarnya bisa dijadikan rutinitas, untuk menghibur para pelaut kita. Yah, ibaratnya, setelah melaut 6 bulan (mencari nafkah), kita bantu lagi dengan memberikan semangat hidup baru berupa hiburan,” ungkapnya.

Kegiatan Festival Sandeq ini juga diharapkan tak hanya menjadi ajang lomba Sandeq. Namun juga momentum silaturahmi antar warga Sulbar di perantauan.

“Ini tahun pertama saya ikut. Saya hadir sebagai peserta sekaligus berkontribusi untuk kesuksesan Festival Sandeq. Ke depan, Insya Allah, kita tetap memberi perhatian khusus untuk kegiatan seperti ini,” jelasnya.

Diberitakan, Sandeq milik PHS berhasil finish pertama di Pantai Lamaru, Balikpapan. Punggawa Sandeq Insya Allah Merpati, Muslim mengaku sangat bersyukur timnya bisa sampai dengan selamat di Kalimantan Timur. Hal ini merupakan sejarah dalam gelaran Sandeq Race yang telah berlangsung sejak 1995 silam.

Menurutnya, Rute Mamuju – Pulau Ambo diakui Muslim sangat menantang. Angin dan hujan deras bahkan membuat beberapa Sandeq rusak. Salah satunya Sandeq Berlian 99, yang harus kembali ke Majene, karena mengalami kerusakan fatal.

“Itu tantangan luar biasa, kencangnya ombak. Badai besar, tapi namanya pelaut kita harus kuat,” ungkapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *