ENREKANG, KABARCELEBES.COM — Komandan Kodim (Dandim) 1419/Enrekang Letkol Inf. Hendra Kusuma Wijaya mengambil langkah cepat mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali meluas di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Hendra menggerakkan jajaran Babinsa untuk memperkuat pemantauan wilayah rawan Karhutla sekaligus membangun komunikasi langsung dengan masyarakat. Warga diminta menjadi bagian dari deteksi dini dengan segera melaporkan jika menemukan asap atau titik api.
Langkah ini dilakukan Hendra agar Enrekang tidak kecolongan. Baginya, api harus diketahui sebelum membesar, bukan setelah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.
“Jangan tunggu api membesar baru kita bergerak. Kalau ada asap atau titik api, segera laporkan. Babinsa harus cepat merespons dan bersama masyarakat mengambil langkah awal,” kata Hendra.
Hendra meminta Babinsa tidak hanya hadir ketika kebakaran terjadi. Mereka harus mengenali wilayah binaan, mengetahui titik-titik rawan dan menjaga komunikasi dengan warga.
Menurutnya, posisi Babinsa yang berada langsung di tengah masyarakat menjadi kekuatan penting untuk mendapatkan informasi paling awal ketika terjadi ancaman kebakaran.
“Babinsa harus dekat dengan masyarakat. Mereka harus tahu kondisi wilayahnya. Kalau ada informasi sekecil apa pun tentang asap atau titik api, jangan menunggu besar. Segera sampaikan dan kita tindak lanjuti,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi penting setelah kebakaran melanda kawasan Gunung Lakawan, Kelurahan Tanete, Kecamatan Anggeraja. Kebakaran yang mulai terjadi pada Senin (31/8/2026) itu sempat sulit dikendalikan karena kondisi medan yang terjal, akses yang sulit dan hembusan angin.
Data terbaru BPBD Enrekang memperkirakan sekitar 70 hektare lahan terdampak kebakaran Gunung Lakawan. Sebelumnya sempat muncul estimasi awal 500 hektare.
Kondisi medan tersebut menjadi salah satu alasan Hendra mendorong penguatan pencegahan dari tingkat wilayah. Menurutnya, ketika api sudah membesar di kawasan sulit dijangkau, proses penanganan akan jauh lebih berat.
“Karena itu kita harus mencegah dari awal. Lebih baik kita cepat mengetahui, cepat melaporkan dan cepat mengambil tindakan daripada menunggu api membesar,” tegasnya.
Hendra juga mengingatkan jajarannya agar tidak menganggap pekerjaan selesai setelah api berhasil dipadamkan. Lokasi bekas kebakaran tetap harus dipantau untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang kembali memicu api.
“Api padam bukan berarti tugas selesai. Tetap harus dicek dan dipantau. Kita pastikan benar-benar aman dan tidak ada titik yang berpotensi menyala kembali,” katanya.
Dalam pola yang dibangun tersebut, Babinsa menjadi penghubung antara TNI dan masyarakat. Sementara warga menjadi mata dan telinga pertama dalam melihat perubahan kondisi lingkungan.
Hendra menilai kecepatan informasi menjadi salah satu kunci menghadapi Karhutla.
“Kalau informasi cepat kita terima, langkah juga bisa cepat kita ambil. Jadi Babinsa dan masyarakat harus punya komunikasi yang baik. Lihat asap, laporkan. Ada titik api, segera koordinasikan,” ujarnya.
Ia menegaskan upaya pencegahan Karhutla bukan pekerjaan satu pihak. Kekuatan aparat dan masyarakat harus dipertemukan agar respons di lapangan lebih cepat.
“Babinsa tidak bisa bekerja sendiri, masyarakat juga tidak bisa sendiri. Kita harus bergerak bersama. Masyarakat tahu wilayahnya, Babinsa hadir untuk menghubungkan informasi itu dengan tindakan,” kata Hendra.
Hendra kemudian menyampaikan apresiasi kepada seluruh Babinsa dan tim yang hingga kini masih berada di lapangan melakukan penanganan serta pemantauan wilayah terdampak.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh Babinsa dan seluruh tim yang sampai saat ini masih bekerja di lapangan. Terima kasih atas kerja keras, kepedulian dan pengorbanannya. Tetap semangat, tetap waspada, dan yang paling utama jaga keselamatan dalam menjalankan tugas,” ujarnya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat yang ikut membantu dan memberikan informasi selama proses penanganan Karhutla.
“Saya juga berterima kasih kepada seluruh warga yang sudah ikut membantu dan memberikan informasi kepada aparat. Dukungan masyarakat sangat berarti. Mari kita sama-sama menjaga wilayah kita. Kalau melihat asap atau titik api, segera laporkan. Jangan diam dan jangan menunggu sampai api membesar,” tutur Hendra.
Hendra berharap pola kerja bersama antara Babinsa dan masyarakat tidak berhenti setelah Karhutla Gunung Lakawan tertangani. Kesiapsiagaan tersebut diharapkan menjadi kebiasaan untuk mencegah munculnya kebakaran baru.
“Kita bangun sistem dari bawah, dari desa dan dari masyarakat. Babinsa bersama rakyat, rakyat ikut menjaga wilayahnya. Kita harus lebih cepat dari api. Bersama rakyat, TNI kuat. Kuat dalam langkah,” pungkasnya. (*)







