Evaluasi Membahas Masa Depan Masjid tanpa Melibatkan Pemuda dan Remaja Masjid Sebagai Pemilik Masa Depan adalah Sebuah Ironi

MAKASSAR, KABARCELEBES.COM – Evaluasi masjid patut diposisikan sebagai ikhtiar strategis untuk menjaga relevansi masjid di tengah dinamika sosial yang terus bergerak. Masjid hari ini tidak lagi berdiri dalam ruang hampa; ia berada di persimpangan tuntutan spiritual, sosial, dan kultural masyarakat yang semakin kompleks. Karena itu, evaluasi masjid bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan instrumen reflektif untuk memastikan fungsi-fungsi masjid berjalan seimbang, adaptif, dan berkelanjutan.

Dalam perspektif keislaman, semangat evaluasi sejatinya sejalan dengan prinsip islah—perbaikan berkelanjutan. Al-Qur’an menegaskan bahwa perubahan tidak akan bermakna tanpa keterlibatan manusia itu sendiri:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini memberi pesan tegas bahwa transformasi masjid menuntut partisipasi kolektif seluruh elemen umat. Evaluasi yang ideal bukan hanya mengukur capaian kelembagaan masa lalu, tetapi membuka ruang dialog lintas generasi—terutama dengan pemuda yang selama ini menjadi denyut penting aktivitas masjid.

Dalam banyak forum evaluasi, sering kali diskursus terjebak pada angka-angka historis: jumlah kegiatan, laporan keuangan, atau capaian administratif. Padahal Evaluasi yang tidak menyentuh investasi masa depan—khususnya peran remaja masjid—menandakan adanya gap komunikasi yang serius. Masjid yang makmur di era digital justru sangat bergantung pada energi pemuda: produksi konten kreatif, pengelolaan komunitas hobi berbasis masjid, hingga penciptaan lingkungan yang ramah anak dan generasi muda.

Secara sosiologis, masjid adalah institusi sosial yang hidup. Ia berfungsi sebagai pusat ibadah, pendidikan, pembinaan moral, sekaligus penguatan solidaritas sosial. Pemuda—terutama yang terorganisasi dalam ormas-ormas Islam—memiliki posisi strategis dalam ekosistem ini. Mereka hadir di lapangan, memahami perubahan pola partisipasi jamaah, serta menjadi eksekutor utama dalam banyak kegiatan aktual masjid.

Menurut Tarmizi Tahir Selaku ketua PRIMA DMI SULSEL Sangat di Sayangkan, belum semua pihak sepenuhnya menyadari bahwa pemuda bukan sekadar “penerus”, melainkan strategic thinker dan strategic executor hari ini. Ketika suara pemuda absen dalam proses evaluasi, hasil penilaian berisiko menjadi normatif—baik secara konsep, tetapi kurang membumi dalam implementasi. Di sinilah kekhawatiran muncul: evaluasi masjid berpotensi menjelma menjadi “menara gading”—tinggi secara gagasan, namun berjarak dari realitas sosial.

Islam sendiri menempatkan pemuda pada posisi sentral dalam keberlangsungan dakwah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya… salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa pemuda yang dekat dengan masjid bukan sekadar harapan masa depan, melainkan aset strategis umat hari ini. Maka, pelibatan pemuda dalam evaluasi masjid bukan soal representasi simbolik, melainkan tentang kualitas kebijakan dan daya tahan program jangka panjang.

Penting ditegaskan, gagasan ini merupakan ajakan kolaboratif agar evaluasi masjid semakin kaya perspektif dan berdampak nyata. Dengan melibatkan pemuda secara bermakna—sejak perumusan indikator, proses penilaian, hingga penyusunan rekomendasi—evaluasi akan lebih komprehensif, aplikatif, dan visioner.

Ketua PRIMA DMI SULSEL Menegaskan bahwa Masjid yang besar bukan hanya yang megah bangunannya atau rapi tata kelolanya, tetapi yang mampu merangkul seluruh generasi. Evaluasi Masjid 2025 akan menemukan nilai strategisnya apabila ia menjadi ruang dialog yang inklusif—tempat kebijaksanaan para sesepuh bertemu dengan energi, kreativitas, dan idealisme pemuda.

Di sanalah masjid tidak berdiri sebagai menara gading, melainkan tumbuh sebagai pusat peradaban umat: hidup, membumi, dan menatap masa depan dengan penuh harapan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *