POLMAN, KACE — Sejak tiga hari terakhir, sampah di Kabupaten Polewali Mandar menjadi polemik. Hal ini dipicu dengan ditutupnya tempat pembuang akhir di Kecamatan Binuang oleh warga.
Dampaknya, halaman Kantor Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman disulap jadi tempat pembuangan sampah. Hingga saat ini Bupati Polman, Andi Ibrahim Masdar, belum mengeluarkan statemen resmi mengenai darurat sampah Polman ini.
Warga Wonomulyo, Suaib, mengatakan, aroma bau tak sedap yang ditimbulkan dari limbah sampah sudah sangat menganggu.
“Sudah busuk baunya, sementara sampah hanya dibakar dan mengganggu lingkungan sekitar. Pak Bupati (AIM) ini kemana dan bikin apa ? Sampai saat ini belum ada langkah khusus menangani sampah ini,” katanya.
Kepala Bidang Kebersihan Pemkab Polewali Mandar, Nursam mengaku untuk penanganan sampah saat ini diserahkan ke masing-masing kecamatan.
Pemkab Polman masih terus berupaya mencari lokasi atau untuk pembangunan TPA baru pasca TPA Paku ditutup. Sampah mengunung itu berasal dari limbah rumah tangga dan pasar. Tampak petugas memilah sampah sebelum dibakar.
“Pemusnahan yang sekarang dilakukan oleh teman-teman adalah jalan terakhir, daripada kita tidak berbuat sama sekali,” kata Camat Wonomulyo Sulaeman Mekka.
Dia mengaku sampah yang dimusnahkan berasal dari sejumlah tempat di daerah. Sampah tersebut sudah berhari-hari tertampung di atas mobil kontainer karena ketiadaan tempat pembuangan sampah sementara.
“Memang kemarin sudah saya sampaikan sama teman-teman, agar sampah yang berada di dalam kontainer untuk sementara ditumpahkan di halaman kantor camat, supaya bisa diproses, karena tidak ada tempat pembuangan sementara,” ucapnya.
Sulaeman mengatakan pihaknya kesulitan mencari lahan di Kecamatan Wonomulyo untuk dijadikan tempat pembuangan sampah sementara. Kalau pun ada, lokasinya dekat dengan permukiman warga.
“Di Wonomulyo untuk tempat pembuangan (sampah) sementara belum ada. Karena tidak ada lahan, berada di posisi pemukiman semuanya,” imbuhnya.
Menurutnya, untuk membuat mesin pengolah sampah yang dimaksud membutuhkan anggaran besar. Rencana ini Diharap mendapat dukungan pemerintah lewat APBD.
“Untuk membuat mesin ini, membutuhkan modal, anggarannya sekitar Rp 180 sampai 200 juta. Mesinnya bisa dirakit sendiri, dan Insya Allah bisa mengantisipasi sampah di Kecamatan Wonomulyo,” imbuhnya.
Apalagi produksi sampah di Polman terus meningkat. Volume timbunan sampah diperkirakan akan melonjak dua kali lipat saat bulan suci Ramadan mendatang.
Sebelumnya, kantor kecamatan yang dijadikan tempat pembuangan sampah imbas dari ditutupnya TPA di Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Polman. Kehadiran TPA di kawasan perbukitan ditolak warga, hingga akses ditutup dengan memasang portal.
“Alasan warga kenapa menolak, karena secara kontur tanah, warga di sini masih mengandalkan air sumur untuk air minum. Dikhawatirkan dengan adanya TPA akan mencemari sumur warga,” ucap tokoh pemuda setempat, Ashari Sarmedi.
Tidak hanya itu, bahkan TPA di Desa Amola, Kecamatan Binuang juga ditolak warga gegara dianggap mencemari lingkungan hingga ditutup paksa. Penolakan ini membuat pemerintah setempat mengambil kebijakan agar penanganan sampah dilakukan dikembalikan ke kecamatan masing-masing. (*)







