Berita  

Usulan Andi Pangerang Petta Rani Jadi Pahlawan Nasional, Panglima Ta’ : Jangan Pernah Melupakan Sejarah

GOWA, KABARCELEBES.COM – Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sulselbar, Mayjen TNI (Purn) Andi Muhammad Mappanyukki (Panglima Ta’) diundang khusus dalam seminar pengusulan Andi Pangerang Petta Rani menjadi calon Pahlawan Nasional di Gedung Dharma Wanita, Gowa, Senin 23 Juni 2025.

Dalam sambutannya, Panglima Ta’ kembali mengingatkan tentang perjuangan para pendahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah, khususnya Andi Pangerang Petta Rani.

Dalam sejarahnya, Andi Pangerang Petta Rani pada bulan Agustus 1945 ditunjuk sebagai anggota delegasi Sulawesi ke Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia bersama Dr. Sam Ratulangi dan Andi Sultan Daeng Radja.

“Jadi bukan tanpa alasan Andi Pangerang Petta Rani menjadi tokoh yang diakui. Sebab, selain menjadi gubernur pertama di Sulawesi, juga pejuang kemerdekaan,” kata Panglima Ta’ yang juga keponakan langsung Andi Pangerang Petta Rani ini.

Untuk itu, dirinya menekankan pentingnya peran aktif pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten agar Andi Pangerang Petta Rani menjadi Pahlawan Nasional.

Di masanya, lanjut Panglima Ta’, Pangerang Petta Rani menjadi pejuang kemerdekaan sekaligus sebagai ulama yang mengajarkan banyak contoh – contoh positif bagi generasi saat ini.

“Jadi jangan sepelekan perjuangan beliau (Andi Pangerang Petta Rani) dan jangan pernah melupakan sejarah,” tegas Ketua DPD Pepabri Sulselbar ini. (*)

Profil Andi Pangerang Petta Rani

Lahir di Desa Mangasa Kabupaten Gowa tanggal 14 Mei 1903 ayahnya bernama Andi Mappanyukki Datu Silaja, Datu Suppa (Raja Bone) dan ibunya I Batasai Daeng Taco putri Gallarrang Tombolo anggota Bate Salapang.

Andi Pangerang memulai perjalanannya menjadi seorang Pamong Praja di Palopo, Bone dan Takalar. Di tahun 1925, dirinya diangkat menjadi kepala distrik selama kurang lebih 4 tahun.

Tahun 1931, dirinya lantas dipercaya menjadi sekretaris Raja Bone yang berlangsung selama 9 tahun. Pasca menyelesaikan tugas, ia kemudian diangkat menjadi Sekretaris Pemerintah Swapraja Bone meliputi Soppeng dan Wajo hingga tahun 1942.

Empat tahun berselang, Andi Pangerang Petta Rani dipercaya sebagai Arung Macege merangkap Kontelir Pamong Praja atau Kepala Kewedanaan Bone namun mengundurkan diri pada 1946 karena todak bersedia bersekutu dengan Belanda.

Dalam perjalanannya menentang Belanda, dirinya kembali ke Jongaya memimpin P.N.I. Gowa pada Maret 1946 yang berakhir pada kurungan Belanda.

Di tahun 1955, ia kembali ke Bone sebagai Kepala Daerah Bone. Kemudian ia didapuk menjadi Residen Koordinator Sulawesi Selatan selama dua tahun. Kemudian diangkat Menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi di tahun 1956. Semasa hidup, Andi Pangerang Pettarani dikenal sebagai pemimpin yang hebat namun tetap sederhana. (*)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *