BULAN suci Ramadan dimaknai sebagai momentum membangun atau menata ulang arah hidup dan keikhlasan. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai momentum “merekonstruksi” setiap aktivitas agar bernilai ibadah.
Keikhlasan dapat menjadi pengawas dalam setiap tindakan, sehingga Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki niat.
Puasa Ramadan bisa juga dimaknai sebagai “kampus” integritas moral. Sebab, salah satu keistimewaan ibadah puasa adalah tidak nampak. Maka integritas menjadi kuncinya.
Oleh karena itu, Ramadan menjadi pembina karakter, khususnya tentang integritas yang bisa berimplikasi pada pada perbaikan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Sekaligus melepaskan ego sektoral dan individual demi kemajuan.
Tidak perlu memproklamasikan siapa paling berkontribusi. Namun yang terpenting bagaimana melahirkan ide atau gagasan yang terbaik lewat semangat kebersamaan.
Selain melatih integritas, Ramadan juga sekaligus melatih kejujuran. Meski masih ada pertanyaan yang mengganjal, yakni meskipun melaksanakan ibadah puasa, namun perbuatan-perbuatan buruk seperti korupsi masih saja terjadi.
Padahal mestinya orang yang berpuasa itu mampu untuk membedakan mana yang al haq dan mana yang batil.
Sehingga mari kembali kepada integritas yang cenderung akan mendorong untuk melakukan hal-hal yang sifatnya kebaikan. Serta menjaga diri sebagai hamba yang bertakwa.
Sebab, segala bentuk ibadah seyogyanya bertujuan hanya satu, yaitu untuk mengharapkan rida Allah SWT.
Jadi mari kembali kepada fitrah kita sebagai hamba yang beriman. Lurus dalam tauhid. Mengedepankan keikhlasan, akhlak mulia, dan ketaatan kepada Allah SWT. (*)

