Alhamdulillâhi rabbil âlamîn, karena kita masih diberikan umur panjang oleh Allah subhanahu wata’ala sehingga bisa berjumpa dengan hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Semoga kita semua mendapatkan predikat takwa yang menjadi orientasi utama setelah sebulan penuh menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Sekaligus berharap kembali kembali menjadi fitrah, yakni kesucian hati dan kebersihan jiwa.
Tujuan Ramadan adalah takwa, bukan sekadar menahan haus dan lapar. Takwa lahir dari perjuangan, keberanian dan kejujuran seorang hamba untuk meraih posisi terbaik di hadapan Sang Khalik.
Lalu, jika setelah Ramadan kita kembali lalai dalam salat, kembali menyakiti sesama dan kembali jauh dari Al-Qur’an, maka perlu bertanya dalam hati apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah dan benar-benar lulus dari Ramadan?
Orang yang benar-benar menang bukan yang sekadar merayakan, tetapi yang mampu menjaga keimanan dan takwa setelah Ramadan.
Keduanya perlu kita jaga sepanjang hidup. Jika nilai-nilai tersebut mampu dipertahankan, maka Idul Fitri benar-benar menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih berkah.
Sebab, Ramadan adalah proses atau “madrasah” membentuk karakter manusia yang lebih dekat dengan Tuhannya.
Ramadan melatih kita sabar, berani dan jujur. Bukan hanya saat sendiri, tapi juga saat diuji di tengah – tengah masyarakat. Ia (Ramadan) melatih kita menahan diri agar mampu mengendalikan arah hidup.
Mari kita sedikit memahami apa itu fitrah. Dalam Al-Qur’an, konsep ini secara eksplisit disebut dalam firman Allah:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah…” (QS. Ar-Rum: 30)
Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Nabi Muhammad bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memperkuat bahwa fitrah adalah kondisi awal manusia yang bersih. Namun, dalam perjalanannya, lingkungan sosial dapat menjauhkan manusia dari fitrah.
Fitrah dapat tertutup oleh dosa, kelalaian, dan nafsu duniawi. Di sinilah Ramadan hadir sebagai penyucian jiwa untuk mengembalikan manusia kepada kondisi fitrahnya.
Idul Fitri adalah titik awal perjalanan seorang muslim. Mampukah kita menjaga kesucian dan kejujuran di tengah godaan ?
Maka dari itu, mari kita terus meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Bukan hanya di lisan, tetapi ditanamkan dalam hati dan diterapkan dalam kehidupan sehari – hari sebagai hamba Allah yang istikamah.
Pada akhirnya, Idul Fitri adalah perjalanan pulang kepada fitrah, pulang kepada Tuhan dan jati diri. Selamat hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin. (*)
Taqabbalallahu minna wa minkum



