MAKASSAR, KACE — Peluang caleg milenial di Pileg 2024 cukup diperhitungkan. Partai politik (Parpol) bisa saja mengandalkan caleg muda untuk meraup suara. Pasalnya, jumlah pemilih muda terus bertambah tiap kontestasi demokrasi.
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel, jumlah pemilih generasi Z dan milenial mencapai 3.095.506 jiwa dari 6.126.977 total DPB di Sulsel.
Adapun rinciannya yakni pemilih milenial berusia 17-20 tahun mencapai 326.007 pemilih. Kelompok usia 21 tahun hingga 30 tahun sebesar 1.479.933 pemilih dan kelompok usia 31-40 tahun sebesar 1.289.566 pemilih atau 21,05 persen.
Khusus di daerah pemilihan Gowa – Takalar terdapat sejumlah figur – figur muda yang berpeluang besar duduk sebagai anggota DPRD Sulsel periode 2024 – 2029.
Sebut saja Andi Aisyah Muhammad yang didorong Partai Gerindra untuk bertarung di dapil Gowa – Takalar untuk DPRD Sulsel. Selain itu ada Rijal Djamal dari PKB, Fia Fauziah Burhanudin dan Muh Amdjad Adhyaksa Arifin.
Andi Aisyah merupakan putri dari mantan Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Andi Muhammad Mappannyukki atau yang akrab disapa Panglima Ta’. Dimana, Gowa dan Takalar merupakan daerah keluarga besarnya.
Adapun Rijal Djamal merupakan influencer yang sudah sangat akrab bagi pengguna media sosial di Sulsel. Sementara Fia Fuaziah merupakan putri dari mantan Bupati Takalar Burhanuddin Baharuddin.
Ke empat caleg tersebut tidak asal maju atau sebagai pelengkap saja. Mereka membawa nama besar keluarga masing – masing yang sudah populer di kalangan masyarakat Gowa dan Takalar. Bahkan, sudah memiliki basis pemilih.
Pengamat Kepemiluan, Nurmal Idrus dalam sebuah kesempatan mengatakan, data tinggi pemilih milenial menunjukkan bahwa pemilih milenial cukup potensial untuk menentukan kemenangan.
Olehnya itu, kata Nurmal, parpol harus aktif menjalin komunikasi serta membuat kegiatan yang bisa menarik perhatian kaum milenial.
“Parpol tentu harus melihat karakter pemilih milienial. Tim pemenangan di masing-masing parpol atau kandidat harus menemukan model program apa yang paling bisa menarik hati para milenial ini,” ujarnya.
Direktur Eksekutif PPI, Ras Md mengatakan, pemilih milenial yang persentasenya menembus 50 persen tentu menjadi pekerjaan (PR) bagi semua partai politik ataupun kandidat.
“Jika pola konvensional tetap dipertahankan dalam mempengaruhi pemilih atau kata lainnya partai politik bergaya pragmatis, sangat sulit akan diterima dikelompok milenial,” tuturnya.
Olehnya itu, lanjut dia, partai politik mesti memahami klaster dan ciri khas pemilih milenial agar partainya disenangi dan dipilih oleh kelompok milenial.
“Tapi satu hal yang mesti dipahami, merangkul pemilih milenial tak harus bergaya milenial. Ini yang banyak disalah artikan oleh para politisi,” jelasnya.
Terpisah, Aulia, warga Gowa ini mendukung penuh kaum milenial untuk terjun ke dunia politik demi membawa perubahan di kancah politik Indonesia.
Menurutnya, dengan adanya caleg milenial akan menjadikan suasana perpolitikan di Indonesia semakin ramai.
“Saya pribadi lebih memilih caleg muda atau milenial dibanding yang lain. Karena saya yakin mereka bisa lebih memahami kebutuhan anak muda zaman sekarang,” ujar Aulia saat dimintai tanggapan.
Senada, menurut Andi, warga Gowa lainnya mengaku akan memilih caleg milenial. Terlebih lagi yang memiliki visi dan misi anak muda kreatif.
“Kalau caleg milenial cenderung lebih enjoy. Ketika mereka duduk di parlemen saya yakin akan lebih mudah mengakomodir kebutuhan kami kaum milenial. Beda sama yang lain,” kata Andi. (*)







